AGolf- Ada upacara pembukaan tentu ada pula upacara penutupan. Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018 yang telah berlangsung 9 Februari akhirnya berakhir Minggu (25/2) malam. Tidak ada lagi sekat antar negara, para atlet yang masih ‘betah’ di PyeongChang ikut meramaikan Olympic Stadium, termasuk Korea Utara dan Korea Selatan yang masuk berbarengan untuk menunjukkan persatuan di antara keduanya.

Di hari terakhir ini, Norwegia neck-to-neck dalam perebutan medali emas dengan Jerman. Kalah 3-4 di final hoki es dari Rusia, Jerman unggul satu emas atas Norwegia di bobsleigh 4-man yang memang mereka rajai.

Berpeluang mengulang 3 juara umum di Olimpaide Musim Dingin, Jerman malah ditaklukkan dengan aksi Marit Bjoergen dari Norwegia, yang membuat kedua negara ini saling mengumpulkan 14 keping emas. Memiliki 4 perak dan perunggu lebih banyak dari Jerman, Norwegia pun didapuk sebagai juara umum PyeongChang 2018.

Bagi Marit, emas ini menjadi yang ke-8 di usianya yang ke-38 bulan depan. Dengan tambahan medali di hari terakhir PyeongChang 2018 juga, Marit menjadi peraih medali terbanyak di cabang olahraga cross-country skiing, dengan 15 medali dari 5 Olimpiade.

Sebagai tuan rumah, Korea Selatan masih menambah medali perak dari curling. Tampil di final pertama mereka, tim yang berjuluk ‘Garlic Girls’ oleh media lokal harus mengakui pengalaman panjang tim Swedia dengan 3-8. Memenangi dua emas dari 3 final terakhir, Swedia memiliki momentum penting dengan menang 3-0 di end 7. Di titik ini, Swedia sudah di atas angin dengan 7-2 di tiga end terakhir.

Tim Swedia raih emas di curling / Olympic.org

Hasil 1-1 di dua end berikutnya, Korea pun menyerah dan harus puas dengan peringkat kedua. “Kami punya chance untuk menang dari Swedia, tapi kami sadar mereka ternyata terlalu kuat hari ini,” komentar skipper Kim Eun-jung.

“Sejak end pertama, strategi yang kami terapkan bisa ditahan mereka dengan baik, bahkan sangat baik tanpa cela,” tambah Eun-jung.

Anna Hasselborg yang menjadi juara dunia junior 2010, akhirnya naik kelas ke Olimpiade di usia ke-28. “Saya bangga dengan timku dan permainan seperti inilah yang kami inginkan di final. Menghadapi tuan rumah, kami ingin fokus di setiap shotnya. Memang sih ada gugup, tetapi saya menghapus itu semua,” kata Anna.

PyoengChang 2018 berpindah ke Beijing 2022

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach yang hadir di upacara penutupan, percaya PyeongChang 2018 menjadi awal dari Horizon Baru seperti yang disampaikan pendiri Olimpiade, Pierre de Coubertin.

“Olimpiade seperti penghormatan kepada masa lalu dan kepercayaan kepada masa depan,” kata Bach. “Hal seperti ini ditunjukkan atlet asal Korea Utara dan Korea Selatan yang melebur menjadi satu di ajang ini. Kalian menunjukkan masa depan yang damai di antara kita melalui olahraga. Meskipun kita menghadapi dunia yang rentan konflik, tetapi kami percaya olahraga merupakan salah satu faktor pemersatu kita. Dan IOC akan terus berperan untuk hal ini meskipun api Olimpiade di stadion ini telah padam.”

Pemberian bendera IOC kepada walikota Beijing /Olympic.org

Dari PyeongChang 2018, Bach memberikan bendera IOC kepada walikota Beijing Jining Chen sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin berikutnya, empat tahun mendatang.

Terima kasih PyeongChang 2018, sampai jumpa Beijing 2022! Gamsahamnida PyeongChang 2018, zai jian Beijing 2022!