AGolf.co– Setelah berkutat selama lima hari perdagangan, akhirnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya kuat menanjak dalam satu hari saja. Sisanya, yang empat hari, terus merosot. Termasuk pada perdagangan hari terakhir (Jumat). Di penghujung pasar IHSG ditutup, sangat menjauhi level psikologis yakni di kisaran 6.389,085. Itu berarti, dalam sepekan, indeks menukik 2,02%.

Sangat dalam dan memprihatinkan. Akibatnya, bersama India, IHSG tercatat sebagai indeks berkineja terburuk.

Tak cuma pasar saham, nilai tukar mata uang Indonesia pun mencatat kinerja terburuk pekan ini. Nilai tukar rupiah turun 1,43% dalam sepekan ini ke level Rp 14.154 per dollar Amerika Serikat (AS) setelah sempat menembus bawah level Rp 14.000.

Pelemahan rupiah yang mencapai lebih dari 1% ini sangat jauh jika dibandingkan dengan peso di posisi terburuk kedua yang hanya melemah 0,59%. Nilai tukar yen melemah 0,59% terhadap the greenback dalam sepekan.

Kalangan analis memprediksi IHSG akan cenderung mengalami koreksi mendekati level support pada Senin (18/2). Kecuali ada kabar bagus dari pertemuan AS-China.

Sejumlah faktor juga akan menjadi penentu bagi keperkasaan IHSG selanjutnya. Dari dalam negeri, defisit neraca perdagangan yang pada Januari mencapai US$ 1,16 miliar.

Sementara dari eksternal, ya itu tadi, pasar masih menantikan hasil pertemuan pemimpin Tiongkok dengan sejumlah delegasi dari AS. Makanya, diharapkan ada kesepakatan dari pertemuan ini, mengingat tenggat waktu 1 Maret 2019 sudah semakin dekat.