AGolf.co – Industri pengolahan dan pemurnian (smelter) mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Demi keberlanjutan industri ini, pemerintah telah memaksa perusahaan tambang untuk memasok kebutuhan industri pengolahan. Sebab, pasokan bahan baku menjadi salah satu persoalan industri smelter.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong investasi pengembangan industri smelter di Tanah Air. Kini, industri berbasis nikel semakin menggeliat. Terlebih lagi, industri smelter berperan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah berkomitmen melaksanakan kebijakan hilirisasi industri. “Sebab, industri ini mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya terkait  peresmian industri smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (25/2/2019).

Menperin mengapresiasi PT VDNI. Perusahaan itu telah merealisasikan investasinya sebesar USD1 miliar untuk membangun 15 tungku Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF). Total kapasitas produksi bisa mencapai 800 ribu metrik ton per tahun. Pabrik ini akan menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) yang memiliki kadar nikel 10-12%.

Dia berharap proyek ini dilanjutkan menjadi industri yang terintegrasi dan menghasilkan stainless steelberkelas dunia. Pada 2018, PT VDNI telah menyumbang sebesar USD142,2 juta dari pengapalan produk NPI.

Proyek ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 6 ribu orang. Sebagian besar merupakan warga asli Sulawesi Tenggara. Tenaga kerja tidak langsung juga terserap sebanyak 10.000 orang yang merupakan bagian dari multiplier effect.

Fasilitas smelter dengan luas area 700 hektare tersebut menjadi salah satu fasilitas pemurnian bijih nikel terbesar di Indonesia. PT. VDNI adalah anak perusahaan Jiangsu Delong Nickel Industry Co., Ltd, produsen feronikel terkemuka.

Perusahaan afiliasi PT. VDNI sedang membangun pabrik smelter nikel dengan kapasitas produksi NPI sebanyak 1,2 juta ton per tahun. Pabrik itu untuk memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak 3 juta ton per tahun. Total nilai investasi ini diperkirakan mencapai USD2 miliar. 

Produksi stainless steel di PT VDNI sangat sesuai dengan program hilirisasi smelter di Indonesia. Pemerintah memproyeksikan akan terjadi peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60% dibanding di Jawa.

PT. VDNI bertekad untuk menjadi industri smelter terbesar di Indonesia dan berkelas dunia di masa mendatang. “Fasilitas ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif terhadap pembangunan dan kemajuan Sulawesi Tenggara maupun Indonesia,” tutur Zhu Min Dong, presiden direktur PT. VDNI.

Kehadiran fasilitas smelter PT. VDNI dapat memberi efek berantai. Salah satunya adalah penggunaan tenaga kerja kontraktor yang menjadi rekanan bagi PT. VDNI.

Pada September 2017, untuk pertama kalinya PT VDNI telah melakukan kegiatan ekspor NPI sebanyak 7.733 metrik ton dengan tujuan ke Tiongkok.

Target 6 juta

Pada kesempatan yang sama, Menperin optimistis, dengan beroperasinya pabrik-pabrik smelter di Konawe, Sulawesi Tenggara dan Morowali, Sulawesi Tengah akan menjadikan pulau Sulawesi sebagai pusat industri berbasis stainless steel berkelas dunia dengan total kapasitas melampaui 6 juta ton per tahun.

Rencananya, industri di Konawe akan mampu memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak 3 juta ton per tahun. Industri di Morowali sudah menghasilkan 3,5 juta ton stainless steel per tahun. Apabila Indonesia mampu menembus kapasitas 6 juta ton stainless steel per tahun, itu dinilai menjadi produsen baja nirkarat keempat terbesar di dunia.

Ke depan, sektor industri logam berpotensi memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi nasional. Seiring maraknya berbagai proyek infrastruktur dan tumbuhnya industri pengguna, kinerja industri logam terlihat gemilang.

Kondisi itu ditandai dari catatan pertumbuhan sektor industri logam. Pada  2018, industri ini tumbuh 7,6%, naik dibandingkan pada tahun 2017 dan 2016 yang masing-masing sebesar 6,33% dan 2,35%.