AGolf-Industri asuransi jiwa Indonesia pada Kuartal II-2016 mencatat kinerja pertumbuhan yang kuat. Total pendapatan premi dan jumlah tertanggung individual meningkat masing-masing 10% dan 15,1%. Peningkatan kedua angka ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan asuransi jiwa dalam menghadapi risiko-risiko yang tak terduga dalam hidup.

Total pendapatan industri asuransi jiwa meningkat kuat, yaitu sebesar 42% menjadi Rp99,88 triliun dari Rp69,97 triliun yang diperoleh di Kuartal II-2015. Peningkatan total pendapatan ini didukung oleh meningkatnya total pendapatan premi yang terdiri dari total premi bisnis baru sebesar 10,8% menjadi Rp43,41 triliun dan total premi lanjutan sebesar 9% menjadi Rp31,19 triliun, serta meningkatnya hasil investasi menjadi Rp21,92 triliun, dan pendapatan lainnya sebesar 32,9% menjadi Rp2,03 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim, mengatakan bahwa di Kuartal II 2016 ini industri asuransi jiwa Indonesia dapat mencatatkan kinerja pertumbuhan yang kuat dan mencerminkan semakin tingginya kesadaran masyarakat dalam berasuransi.”Pertumbuhan yang kuat ini sekaligus menunjukkan komitmen tinggi industri asuransi jiwa Indonesia untuk senantiasa berusaha dan berfokus kepada pertumbuhan bisnis yang dilandasi oleh penyediaan berbagai produk perlindungan keuangan dan investasi jangka panjang yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia,”kata Hendrisman.

Di sisi lain, komitmen industri asuransi jiwa juga terlihat dari total klaim dan manfaat yang dibayarkan. Pada Kuartal II-2016 total klaim dan manfaat yang dibayarkan oleh industri asuransi jiwa sebesar Rp44,7 triliun atau meningkat 3,6% dari Rp43,16 triliun yang dibayarkan pada Kuartal II-2015, hal ini merupakan bukti nyata perusahaan asuransi jiwa mampu dan terus menunjukkan komitmennya dalam memenuhi pembayaran klaim kepada para nasabah. Dari angka tersebut, klaim kesehatan (medical), akhir kontrak, dan meninggal dunia sebagai berikut:

  • Klaim kesehatan (medical) meningkat 27,9% menjadi Rp5,17 triliun dari Rp4,04 triliun yang dibayarkan di Kuartal II-2015
  • Klaim akhir kontrak meningkat 18,2% menjadi Rp4,58 triliun dari Rp3,88 triliun pada Kuartal II-2015
  • Klaim meninggal dunia meningkat 17,3% menjadi Rp4,09 triliun dari Rp3,49 triliun pada Kuartal II-2015

 

Ketua Bidang Regulasi dan Best Practice AAJI, Maryoso Sumaryono mengatakan, selain angka klaim kesehatan, akhir kontrak, dan meninggal, angka klaim partial withdrawal atau penarikan sebagian menunjukkan penurunan sebesar -40,4% menjadi Rp6,37 triliun dari Rp10,69 triliun.

“Kami melihat bahwa penurunan angka tersebut ikut menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berasuransi dan berinvestasi dalam jangka panjang, demi terwujudnya tujuan-tujuan keuangan di masa depan,”kata Maryoso.

Sementara untuk total tertanggung secara umum menunjukkan perkembangan yang cukup stabil, dimana hanya terjadi penurunan sebesar -0,1% atau menjadi 56,95 juta orang dari sebelumnya 57,02 juta orang. Namun demikian, dari sisi jumlah tertanggung perorangan di Kuartal II-2016 meningkat kuat sebesar 15,1% atau menjadi 19,11 juta orang, dari 16,60 juta orang di Kuartal II-2015.

Kepala Departemen Komunikasi AAJI, Nini Sumohandoyo, mengatakan sangat senang melihat angka kenaikan jumlah tertanggung perorangan ini. “Angka ini, serta angka total pendapatan premi yang bertumbuh, menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berasuransi, mencapai tingkat penetrasi sekitar 7,5% terhadap total jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 255 juta,”

”AAJI bersama dengan regulator dan instansi-instansi terkait lainnya akan terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berasuransi melalui berbagai kegiatan edukasi tentang asuransi jiwa dan manfaatnya. Selain itu, kami juga terus berupaya untuk membuka akses asuransi jiwa yang seluas-luasnya kepada masyarakat melalui berbagai jalur distribusi,”tambahnya.

Pada Kuartal II-2016 ini, AAJI mencatat saluran keagenan tetap memiliki kontribusi terbesar terhadap total premi dengan 41,3% diikuti oleh bancassurance dan saluran alternatif dengan masing-masing kontribusi sebesar 38,4% dan 20,3%. Masing-masing dari ketiga saluran distribusi ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,0%, 15,3%, dan 18,5%. Jumlah tenaga pemasar tumbuh 12,1% menjadi lebih dari 507 ribu orang, dimana 90,7% dari jumlah tersebut datang dari tenaga pemasaran saluran keagenan.