AGolf.co– Nilai tukar rupiah benar-benar tidak berdaya. Penguatan yang cukup signifikan di pekan-pekan sebelumnya, langsung disusul koreksi yang tak kalah tajam. Alhasil, dalam sepekan terakhir (8/2 – 15/2), mata uang kebanggan RI itu mengalami penurunan 199 poin (1,43%) menjadi Rp14.154 per dolar.

Para analis di pasar uang mengatakan, ambruknya nilai tukar rupiah tersebut salah satunya dipicu oleh ancaman pelemahan ekonomi dunia. Alotnya perundingan sengketa dagang antara AS dengan China menambah situasi semakin runyam. Apa boleh buat, para pemilik duit pun akhirnya melirik aset lindung nilai atau safe haven seperti dolar atau emas.

Darmin Nasution, Menko Bidang Perekonomian, mengakui situasi di pasar global menjadi ancaman bagi Indonesia. Terutama yang berkaitan dengan ekspor. “Buruknya kinerja ekspor bulan Januari karena efek perang dagang AS – China,” ujarnya. Seperti diketahui, pada bulan Januari neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$ 1,16 miliar.

Lantas, bagaimana nasib rupiah kita pekan depan? Sebagian pelaku pasar pesimis mata uang republik ini bakal menguat. Soalnya, kelanjutan dari perang

Dagang AS – China hingga saat ini belum jelas penyelesaiannya. Betul, China telah berjanji untuk menghentikan pemberian subsidi bagi industri dalam negeri. Namun hal tersebut masih jauh dari tuntutan AS yang menginginkan reformasi secara struktural.

Jadi perang masih akan berkobar atau sebaliknya? Tergantung hasil perundingan lanjutan yang akan berlangsung di Washington, pekan depan. Yang jelas, jika sampai 1 Maret tak juga tercapai kata mufakat, maka tarif impor barang-barang China ke AS senilai US$ 200 miliar akan naik dari 10% menjadi 25%.

Repotnya, selain perang dagang AS – China dan pelemahan ekonomi global, kini nilai tukar rupiah dibayang-bayangi oleh naiknya harga minyak dunia. Jika harga si emas hitam ini terus bergerak naik, bukan tak mungkin rupiah akan kembali terkoreksi. Asal tahu saja, kenaikan harga minyak ini membuat kebutuhan valas PT Pertamina (Persero) juga bakal naik.

Bila faktor perang AS – China dan minyak tidak diperhitungkan, sebenarnya pekan depan rupiah bakal disambut oleh beberapa sentimen positif. Salah satunya adalah lelang surat berharga syariah negara (SBSN) senilai Rp 8 triliun yang akan digelar Selasa pekan depan. Lelang sukuk negara ini diperkirakan akan berlangsung sukses. Sebab, bis to cover atau tawaran yang masuk diduga mencapai 2,8 – 2,9 kali dari target. Artinya, jumlah penawaran yang masuk bisa mencapai Rp23 triliun lebih.

Memang tidak luar biasa. Tapi, setidaknya, dari lelang itu ada sedikit dolar yang masuk. Eloknya, setelah Pertamina menurunkan harga BBM, awal Maret PLN juga akan menurunkan tarif listrik golongan R – 1 900 VA. Kendati cuma turun Rp52 (Jadi Rp1.300 per kWh), namun akan berdampak cukup signifikan pada penurunan inflasi. Sebab, penurunan tarif tersebut akan dinikmati oleh 21 juta pelanggan.

Hanya saja, menurut sejumlah analis, kabar baik tadi belum tentu bisa membuat rupiah terbang tinggi. Maksudnya, sulit bagi rupiah untuk bermain di bawal level Rp14.000 per dolar. Analisis menarik diungkapkan Satria Sambijantoro, Ekonom Bahana Sekuritas. Menurutnya, saat ini dolar sudah masuk area overbought. Itu sebabnya, ia memperkirakan pekan depan rupiah akan bergerak di rentang Rp14.050 – Rp14.125 per dolar.