AGolf – Analis PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menilai, kondisi bursa saham di kawasan Asia yang cenderung melemah pasca dirilisnya data ekspor-impor China yang jauh di bawah ekspektasi, turut mempengaruhi psikologis pelaku pasar di dalam negeri sehingga cenderung melakukan aksi jual.

“Lalu, setelah diadakannya minutes FOMC yang secara tersirat memberikan sinyal adanya peluang kenaikan suku bunga AS di bulan Desember juga dijadikan sentimen negatif sehingga membuat IHSG tertekan,” kata Reza, Jumat (14/10)

Sepanjang pergerakan, IHSG melemah dan diikuti laju Rupiah yang menguat tipis. Sementara itu, asing mencatatkan nett sell. Asing tercatat mulai melakukan aksi jual (dari nett sell Rp 962,96 miliar menjadi nett sell Rp 935,09 miliar).

Untuk perdagangan hari ini, Jumat (14/10) Reza memproyeksi IHSG akan berada di rentang support 5.304 sampai 5.322, dan rentang resisten 5.359 sampai 5.372.

“Laju IHSG kembali gagal melakukan perlawanan pasca terbentuknya doji star dan tidak mampu bertahan di atas garis MA nya,” jelas Reza.

Masih minimnya sentimen positif dari domestik membuat para pelaku pasar fokus terhadap isu yang sedang berkembang di bursa saham global.

Peluang rebound terbatas masih dapat terjadi dengan harapan laju IHSG dapat bertahan di atas support 5337 serta mampu melewati MA60 dan MA5 nya serta diikuti aksi beli kembali.

“Diharapkan peluang tersebut terbuka meski tetap cermati sentimen yang ada sebagai antisipasi jika masih terjadi pelemahan lanjutan,” ujarnya

Dari pasar uang, nilai tukar poundsterling kembali melemah setelah pelaku pasar kembali merespon adanya peluang The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga AS dalam Fed minute release.

Terlihat laju GBPUSD bergerak sempat melemah -0,36 persen di level 1,21. Sementara itu laju US$ menurun tipis -0,03 persen terhadap mayoritas mata uang dunia dan menyebabkan laju Yen bergerak menguat sehingga direspon negatif oleh para pelaku pasar valas Asia.

Pergerakan harga minyak mentah dunia yang mudah berubah akibat masih adanya pro dan kontra terkait rencana pembatasan produksi dari anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan non OPEC turut menekan mata uang kawasan.

Sebelumnya Reza menyampaikan bahwa Rupiah ditutup menguat terbatas memanfaatkan momentum pelemahan terbatas yang terjadi pada US$ Indeks. Meski begitu, Rupiah kini cenderung stabil untuk setidaknya berada di area 12900an dalam jangka pendek.

Selama tidak sentiment negatif yang mampu menekan laju Rupiah, kami berharap rupiah mampu meneruskan trend positifnya. Support 13.065 dan resisten 12.980

“Masih minimnya sentimen dari domestik, membuat laju Rupiah tak dapat terhindarkan dari pelemahan,” kata Reza.

Keadaan tersebut, membuat Rupiah menembus level support kami sebelumnya dan berpeluang untuk melanjutkan pelemahannya dalam jangka pendek. Resisten 13.054 dan Support 13.097.

Dari pasar obligasi, laju Rupiah yang kembali melemah seiring dengan imbas pertemuan The Fed yang memberkan sinyal adanya peluang kenaikan suku bunganya, turut berimbas negatif pada laju pasar obligasi. Meski demikian, pergerakan yield obligasi masih lebih baik dari sehari sebelumnya.

Pergerakan yield untuk masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) rata-rata mengalami kenaikan yield 2,14 bps; tenor menengah (5-7 tahun) turun -1,23 bps; dan panjang (8-30 tahun) turun -0,33 bps.

“Meski awan negatif masih menyelimuti namun, mulai ada pelaku pasar yang memanfaatkannya dengan melakukan pembelian,” ujar Reza.

Pada FR0053 yang memiliki waktu jatuh tempo ±6 tahun dengan harga 105,25 persen memiliki yield 6,93 persen atau naik 2,57 bps dari sehari sebelumnya di harga 105,36 persen memiliki yield 6,91 persen. Untuk FR0072 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 107,83 persen dan yield 7,48 persen atau turun -0,70 bps dari sehari sebelumnya di harga 107,75 persen dan yield 7,49 persen.

Pada Kamis (13/10/16), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price naik 0,05 bps di level 116,26 dari sebelumnya di level 116,20. Sementara itu, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun 0,00 bps di level 107,81 dari sebelumnya di level 107,82.

Sementara pada laju yield obligasi korporasi cenderung variatif. Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana yield untuk tenor 9-10 di kisaran level 9,05 persen sampai 9,07 persen.

Sedangkan pada obligasi korporasi dengan rating AA untuk tenor 9-10 tahun, yield nya di kisaran level 9,45 persen sampai 9,46 persen. Untuk yield pada rating A dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 10,20 persen sampai 10,22 dan pada rating BBB di kisaran 13,05 persen sampai 13,07 persen.