AGolf– Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat baik apabila dibandingkan dengan negara-negara lain dengan keadaan ekonomi global sekarang. Ia menyebutkan, semua negara mengalami tekanan ekonomi dan tekanan pertumbuhan ekonomi.

“Negara kita di G20, berada pada posisi 3 besar, di bawah India dan RRC. Ini patut kita syukuri,” kata Jokowi dikutip laman Setkab, Jumat (28/7).

Menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat tergantung pada konsumsi. Oleh sebab itu, daya beli rakyat harus terus diikuti, agar konsumsi tetap berada pada posisi yang diinginkan.

Jokowi lantas mengkritik belanja pemerintah, termasuk pemerintah daerah, yang menurutnya sering terlambat mengeluarkan uang dari APBD. Biasanya, tambah Jokowi, daerah baik di kabupaten, di kota, di provinsi, maupun di pemerintah pusat, mengeluarkan uang APBD pada bulan-bulan di akhir tahun.

“Itu sudah bertahun-tahun berjalan seperti itu. Kalau sudah masuk ke November atau Desember, sudah, grojok-grojokan uang bayar ini, bayar ini, bayar ini,” ungkap Jokowi.

Harusnya, menurut Jokowi, pengaturan dimulai pada bulan-bulan awal tahun, seperti uang muka, di bulan Januari sudah harus mulai keluar. Ia mengingatkan, jangan memiliki budaya senang menaruh uang APBD di bank dan mengendap selama berbulan-bulan, sehingga keadaan peredaran uang menjadi kering.

“Harus kita bangun sebuah budaya kerja uang APBD itu segera dikeluarkan. Jangan sampai sudah ditransfer dari pusat, DAU-nya misal, tidak segera digunakan. Sehingga peredaran uang di daerah menjadi sedikit dan tidak banyak,” tutur Presiden.

Selain konsumsi dan belanja, lanjut Jokowi, kuncinya adalah masalah investasi dan masalah ekspor. “Ini tolong dua hal kunci ini diperhatikan betul,” pintanya.

Jokowi mengingatkan, tidak mungkin mendongkrak pertumbuhan ekonomi dari loncatan APBD atau APBN. Kuncinya, menurut Jokowo adalah bagaimana menggenjot ekspor dan bagaimana menggenjot investasi.

“Dua ini kunci yang harus betul-betul kita pahami, dua ini kunci tolong diperhatikan betul,” pesan Jokowi.

Disampaikan Jokowi, sektor komoditas sekarang ini mengalami penurunan ekspor, karena pasar sedang lesu. Negara-negara lain, menurut Jokowi, pertumbuhan ekonominya lesu, baik di Amerika, di Uni Eropa, di Amerika Latin, semuanya sedang mengalami kelesuan, sehingga berpengaruh pada ekspor.

Tetapi Presiden melihat ada beberapa provinsi yang bisa menaikkan ekspornya, seperti di Sulawesi Selatan dan peluang itu bisa diambil. Oleh sebab itu, kalau ekspor sulit digenjot, Presiden mengingatkan, Indonesia masih punya peluang, yaitu di investasi.

“Mendatangkan investor dan investasi di daerah kita, di provinsi, di kabupaten, dan di kota, ini menjadi kunci pertumbuhan ekonomi,” tutur Presiden.

Jokowi juga kembali mengingatkan agar urusan kecepatan perizinan itu betul-betul diperbaiki. Jangan sampai mengurus izin itu berbulan-bulan dan masih lebih dari setahun.

“Sudah, jangan diterus-teruskanlah mengurus izin (dalam hitungan) bulan itu sudah ndak. Minggu saja ndak, harusnya sudah ndak. Hari saja harusnya juga sudah tidak. Sudah zaman IT kaya gini mengurus-urus kaya gitu masih minggu, masih bulan, apalagi tahun, sangat memalukan. Urusannya harusnya sudah jam kalau urusan izin itu, jam,” terang Jokowi.

Ia menambahkan, di pemerintah pusat sekarang ini, BKPM pengurusan izin investasi 3 jam untuk 9 izin dan sudah berjalan lebih dari setahun.

“Jadi datang dengan syarat, izin keluar maksimal 3 jam untuk 9 izin. Izin investasi, akta perusahaan dan NPWP, TDP, rencana penggunaan tenaga kerja asing, kemudian yang keenam izin memperkerjakan tenaga asing, kemudian yang ketujuh angka pengenal importir dan produsen, yang kedelapan nomor induk kepabeanan, yang ke sembilan surat keterangan peta informasi ketersediaan lahan. Ini selesai dalam kurun tidak lebih dari 3 jam, ini bisa kita selesaikan,” papar Jokowi.

Menurut Presiden, daerah harusnya bisa selesai lebih cepat dari ini karena ruang lingkup di daerah yang lebih kecil. “Ini perlu saya titipkan pesan ini, karena kunci tadi. Kunci kita ekspor dan investasi,” ujarnya.

Diingatkan Presiden, ekspor memang sedang sulit karena keadaan pasar, tapi investasi masih bisa digenjot. Problemnya, menurut Presiden, adalah di dalam kita sendiri. Ia menilai,  banyaknya peraturan yang ruwet dan tidak bisa membuat sistem yang cepat untuk melayani investasi.

“Ini saya titip, sehingga kita harapkan nantinya pertumbuhan ekonomi, ini semua daerah, provinsi itu pada posisi yang baik,” tutur Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengaku senang karena beberapa provinsi misalnya di Sulawesi Selatan, pertumbuhan ekonominya bisa mencapai 7,4 persen. Di Makassar, 7,9 persen. “Ini mungkin di dunia paling tinggi,” ujarnya.

Menurut Presiden, sangat sulit mencapai angka-angka tersebut, ia mencontohkan di Amerika atau Eropa, pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 1-2 persen.

“Kita ini bisa ada yang tumbuh 7,9 (persen) ini luar biasa. Inilah saya kira seluruh kabupaten dan kota, provinsi untuk berlomba-lomba bagaimana menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang baik,” pungkasnya.