AGolf.co – Kalau tak ada kejadian yang tidak diinginkan, penguatan rupiah diyakini masih bakal berlanjut pekan depan. Penggeraknya masih aliran dana asing.

Membanjirnya dana milik investor asing ke negeri ini, tampaknya, belum akan berakhir. Itu terlihat dari sikap optimistis yang diperlihatkan oleh pelaku pasar uang dan pasar modal. Mereka begitu yakin, ke depan, nilai tukar rupiah terhadap dolar masih akan berotot. Begitu pun dengan perdagangan saham, diperkirakaan masih akan ramai dengan aksi beli.

Kalau saja keyakinan pelaku pasar tadi menjadi kenyataan, nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal makin perkasa. Sebab, seperti kita saksikan bersama, pekan lalu, nilai tukar rupiah dan IHSG telah menunjukkan keperkasaannya. Nilai tukar rupiah, misalnya, di penghujung pasar Jum’at kemarin ditutup di level Rp 14.058 per dolar. Itu artinya dalam sepekan  nilai tukar rupiah terhadap dolar menguat sebesar 0,26%.

Nah, menurut sejumlah analis, pekan depan ada bebarapa faktor yang cukup kuat untuk mendorong si mata uang Garuda terbang tinggi. Salah satunya, ya itu tadi, dana asing yang masuk ke sini diduga masih akan mengalir deras. Apalagi, Selasa lusa (26/2), pemerintah akan melelang enam seri surat utang negara atau SUN (SPN03190527, SPN12200213, FR077, FR078, FR068, dan FR079). Dari lelang enam seri SUN tersebut, pemerintah menargetkan dapat meraup dana sebesar Rp 30 triliun.

Anil Kumar, Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia, menduga lelang SUN Selasa lusa bakal diserbu peminat. Menurutnya, meredanya ketegangan perang dagang AS – China membuat para investor berani kembali masuk ke instrumen berisiko di negara emerging market seperti Indonesia. “Minimum dua kali dari target pasti akan tercapai dalam lelang itu,” katanya.

Cukup masuk akal, memang. Sebab, imbal hasil (yield) yang ditawarkan oleh obligasi negara itu amat menggiurkan. SUN seri FR078, contohnya. Surat utang yang menjadi acuan (benchmark) obligasi di Indonesia itu menawarkan kupon 8,25%. Ada pun seri FR068 dan FR079 menawarkan kupon 8,375%. “Saya perkirakan investor akan memburu SUN seri FR078 bertenor 10 tahun,” ujar  Kumar.

Dalam hal iming-iming keuntungan, yield obligasi pemerintah RI memang lebih tinggi dibandingkan surat utang yang diterbitkan negara tetangga seperti Malaysia atau Thailand. Bahkan amat jomplang bila disandingkan dengan obligasi Amerika Serikat (US$ Treasury Notes) yang saat ini menawarkan yield 2,74% (tenor 10 tahun) dan 3,06% (tenor 30 tahun).

Jadi, tak salah bila para investor mancanegara  masih memandang Indonesia tetap sebagai lahan menawan untuk beternak uang. “Ini merupakan sentimen positif buat penguatan rupiah,” ujar Ibrahim, Direktur Garuda Berjangka. Ia memperkirakan, pekan depan rupiah akan bergerak menguat di rentang Rp 13.970 – Rp 14.150 per dolar.

Pandangan serupa dikemukakan Josua Pardede, Ekonom Bank Permata. Selain oleh guyuran dana asing, menurut Josua, kebijakan BI mempertahankan 7 – day reserve repo rate di level 6% membuat pelaku pasar kian optimis. “Keputusan itu menunjukkan bahwa BI sedang menjaga stabilitas kurs rupiah,” ujarnya. Untuk pekan depan, Josua menduga rupiah akan bermain di rentang Rp 14.000 – Rp 14.150 per dolar.

Namun perkiraan Ibrahim dan Josua tadi bisa saja meleset. Soalnya, selain sentimen positif, rupiah juga masih dikelilingi sejumlah sentimen negatif.  Meskipun AS dan China telah menyepakati memorandum of understanding (MoU) mengenai perlindungan terhadap kekayaan intelektual, perluasan sektor jasa, hingga tansfer teknologi, toh tetap saja ada beberapa hal yang mengganjal. Untungnya, pihak Amerika bersedia  memperpanjang waktu perundingan beberapa hari ke depan.

Stabilitas nilai tukar rupiah juga kemungkinan masih bisa digoyang oleh isu Brexit serta sengketa dagang AS – Uni Eropa. Dan, jangan lupa juga, ternyata meredanya kegangan AS – China telah menyulut harga minyak dunia. “Perang dagang yang mulai mereda tentu dapat membuat ekonomi global membaik dan mendorong kenaikan harga minyak,” ujar Dini Nurhadi Yasyi, Analis Monex Investindo.