AGolf.co– Harga batu bara baru, dibayangi awan kelabu. Ini disebabkan oleh perlambatan ekonomi global, terutama di China yang sudah menunjukkan gejalanya sejak tahun lalu. Pada perdagangan Senin (1802) kemarin, kontrak batu bara Newcastle di pasar ICE sedikit menguat menjadi US$ 95 per metrik ton.

China merupakan konsumen energi batu bara yang menguasai lebih dari setengah konsumsi batu bara dunia. Selain itu, World Bank juga mengemukakan bahwa lebih dari 70% energi listrik yang ada di China masih dibangkitkan oleh batu bara.

Turunnya aktivitas manufaktur di China tentunya membuat pelaku pasar semakin khawatir penurunan permintaan energi akan semakin dalam.
Untunglah (kalau ini bisa disebut sebagai untung) China menghentikan sementara pembelian batu bara dari Australia, dengan cara memperlama waktu pemeriksaan di Bea Cukai China.

Masih belum jelas mengapa China cenderung menghambat impor asal Australia. Yang jelas tingkah ini telah mendatangkan berkah bagi batubara ekspor dari Indonesia.

Itu terlihat dari data yang berhasil dikumpulkan oleh Reuters. Pada bulan Januari, China tercatat mengimpor 12,3 jutaton batu bara Indonesia, dimana merupakan jumlah bulanan yang tertinggi setidaknya sejak Januari 2015.

Jumlah tersebut meningkat hampir 2 kali lipat dari bulan Desember yang hanya 6,8 juta ton, dan juga melampaui jumlah di November yang sebesar 8,7 juta ton.

Indonesia akan menggenjot ekspornya? Babti dulu. Sebab upaya meningkatkan ekspor batu bara di tengah stagnasi permintaan global ibarat memakan buah simalakama. Jika ekspor dinaikkan, harga batu bara berpotensi jatuh; sedangkan bila ekspor ditahan, negara tidak memperoleh tambahan devisa.

Berdasarkan data Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, produksi batu bara pada 2018 mencapai 548,58 juta ton, lebih tinggi 20 juta ton dari catatan awal Januari 2019 sebanyak 528 juta ton.

Dari jumlah itu, pasokan untuk kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) hanya 115 juta ton. Artinya, ekspor batu bara Indonesia mencapai 433,58 juta ton, dengan asumsi seluruh batu bara berhasil dijual.

Sejauh ini para produsen dan kontraktor pertambangan masih pikir-pikir untuk mempertahankan tingkat produksinya. Pasalnya, permintaan batu bara diprediksi cenderung stagnan pada tahun ini.

Di tengah kondisi ini, Kementerian ESDM menargetkan produksi batu bara pada tahun ini sebanyak 490 juta ton. Bahkan, realisasinya berpeluang kembali menembus 500 juta ton dengan didominasi oleh porsi ekspor.