AGolf.co– Industri perbankan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Selain bersaing dengan sesamanya, bank-bank di Indonesia mulai mendapat saingan berat dari penyelenggara teknologi finansial (financial technologi/fintech).

Tantangan itu kian berat dirasakan oleh bank-bank bermodal kecil dengan layanan terbatas. Tantangan itu menyentuh hampir di segala lini, baik terkait penghimpunan dana, penyaluran dana, produk, maupun layanan perbankan lainnya.

Oleh karena itu, bank-bank kecil dan bank perkreditan rakyat (BPR) harus mewaspadai perubahan zaman. Jangan terlena di kursi kerajaan bisnis yang kecil.

Memasuki 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengingatkan bank-bank bermodal kecil untuk mencari jalan keluar. Sebab, era digitalisasi sudah tidak terbendung lagi. Bank-bank besar juga sudah jauh berada di depan.

“Ke depan, digitalisasi bakal semakin masif, ” ujar Heru Kristiana, kepala eksekutif Pengawas Perbankan OJK, di Jakarta, Selasa (19/2/2019).
Untuk itu, bank-bank kecil harus mencari jalan keluar. Mau tidak mau, mereka harus menambah modal untuk bisa bersaing. Mereka bisa mencari mitra atau bergabung dengan bank besar. “Caranya banyak, tidak harus merger,” tutur Heru.

Tahun ini, setidaknya  ada empat bank kecil berencana merger. PT Bank Dinar Indonesia Tbk akan merger dengan PT Bank Oke Indonesia. PT Bank Agris Tbk merger dengan PT Bank Mitraniaga Tbk.

Setelah bergabung, modal untuk Bank hasil penggabungan Bank Dinar dan Bank Oke menjadi Rp1,6 triliun. Artinya, bank tersebut akan langsung masuk dalam kategori bank umum kelompok usaha (BUKU) II.

OJK juga sudah memberikan lampu hijau kepada Bank Agris dan Bank Mitraniaga Tbk. Lampu hijau juga diberikan kepada Industrial Bank of Korea (IBK) sebagai investor baru kedua bank itu.

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bisa melakukan langkah serupa. Mulai tahun ini, modal minimum BPR disebutkan bahwa pada 2019, bank harus memiliki modal minimum Rp3 miliar. Pada 2024, modal minimal BPR ditetapkan sebesar Rp6 miliar.

Saat ini, OJK mencatat 1.700 BPR dan BPR Syariah (BPRS) di Indonesia.
Dengan modal kecil, BPR akan kesulitan untuk  bersaing dengan fintech yang menjalankan bisnis pinjaman (peer to peer lending). Bila mereka bergabung, posisi BPR akan lebih kuat.

Meski ideal, langkah pengabungan juga bukan pekerjaan mudah. Sebab, karakter pemilik berbeda-beda. Lokasi BPR pun tersebar di berbagai daerah. “Ada satu pemilik mempunyai beberapa BPR. Dia seharusnya bisa menggabungkannya biar kuat,” jelas Heru.

Sekali lagi, digitalisasi adalah suatu keniscayaan. Saat ini,  digitalisasi sudah merambah sektor perbankan. Selain lebih cerdas, sistem ini  bisa membuat biaya operasional lebih murah.